COVID-19 DIMATA PENGURUS PPNI KOTA BANDA ACEH

WAWANCARA EKSKLUSIVE

Sudah 3 bulan lebih wabah pademi VIRUS corona mengerogoti tubuh manusia di seluruh dunia. Termasuk indonesia sampai pemerintah terpaksa membatasi pergerakan orang-orang diluar rumah dengan sekala besar didaerah yang disebut zona merah covid-19. Seakan tidak pandang bulu virus ini terus mengancam bahkan membunuh orang-orak yang diinfeksinya baik anak-anak sampai orang tua, baik masyarakat biasa maupun pejabat-pejabat pemerintahan negara, selebritas, atlit, aktor dan aktris. Ternyata dalam waktu singkat sudah sampai ke 27 provinsi  termasuk provinsi paling jauh yaitu Aceh. Banyak isu berkembang bagaimana virus ini bisa masuk di provinsi yang dikenal dengan serambi mekah ini yang beribukotakan Banda Aceh. Sehingga menimbulkan keresahan dan kekhawatiran tersendiri di masyarakat baik kabupaten maupun ibukota Banda Aceh sendiri yang menjadi pusat Social Distancing. persatuan perawat kota Banda Aceh ikut bereaksi tinggi terhadap kejadian ini. Bagaimana pandangan mereka terhadap wabah ini, mari kita simak wawancara beberapa tokoh dalam organisasi ini !

Sebagai pemimpin organisasi Faisal, AMK, SKM, MKM yang akrap dipanggil bang Faisal menjelaskan ”Covid 19 adalah corona virus influenza deseases yg muncul pada Desember 2019 di Wuhan China. Virus ini ditularkan melalui droplet ketika penderita bersin atau batuk dan bisa bertahan selama 4 sampai 9 jam di udara serta benda-benda lainnya pd suhu dibawah 27°C. Virus ini menyerang saluran pernafasan & merusak paru-paru yang akan mengakibatkan sesak nafas bahkan kematian jika terlambat penanganan atau terjadi pada orang-orang yang rentan terhadap infeksi seperti lansia, orang dengan penyakit kronik seperti diabetes, hypertensi dan lain-lain. Karena penularannya sangat mudah dan mengakibatkan kematian pada angka 5-6% penderita (rata-rata dunia) atau 8-9% penderita (rata-rata di Indonesia).

Pandemi (wabah dunia) ini menjadi sangat menakutkan dan harus mendapatkan penanganan serius dari berbagai pihak, baik itu pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan penyedia anggaran; masyarakat sebagai sasaran; maupun petugas kesehatan sebagai garda depan; khususnya profesi dikantor dan perawat yang lansung berhubungan dengan pasien dalam pelayanan dan penanganan wabah ini.

Profesi perawat paling beresiko, apakah benar bang?

“Profesi dengan jumlah risiko paparan terbesar adalah perawat, karena kontak fisik pertama pasien baik di level puskesmas atau rumah sakit adalah perawat, sehubungan dengan tugas pengkajian awal pasien dengan kontak fisik pertama berupa pengukuran tanda-tanda vital pasien adalah tupoksinya perawat dan yang melayani pasien selama 24 jam di ruang isolasi PDP (Pasien Dalam Pemantauan) di  rumah sakit-rumah sakit yg menjadi rujukan covid juga perawat. Sampai dengan saat ini sudah 13 orang perawat yang gugur sebagai pahlawan perawat covid di Indonesia. Mereka gugur sebagai pasien covid akibat tertular dari pasien-pasien covid rawatan mereka sendiri. Miris memangg, karena tempat mereka bekerja terkadang terlambat menyediakan APD (Alat Pelindung Diri) yang sesuai standar, hal ini bisa jadi karena terbentur dari ketersediaan anggaran di luar perencanaan atau karena terbatasnya persediaan pasar.

Apakah hingga saat ini rumah sakit tidak ada APD yang bagus ?

“Alhamdulillah, saat ini sudah mulai banyak rumah sakit-rumah sakit yang sudah menyediakan APD sesuai standar, meskipun di Puskesmas- puskesmas masih belum sesuai standar.

Sebenarnya, apa keprihatinan perawat-perawat PPNI ?

“Kita sebagai wadah organisasi bagi segenap perawat DPD PPNI (Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia) Kota Banda Aceh, menjadi sangat prihatin dan ikut berbelasungkawa atas gugurnya rekan-rekan profesi di beberapa daerah Indonesia. Mereka berangkat dari rumah untuk menunaikan tugas mulianya, tidak pulang atau kontak langsung dengan keluarga untuk periode waktu tertentu, ternyata benar-benar  tidak ketemu lagi dengan keluarga selamanya karena meninggal akibat tertular dari pasien yang dirawatnya. “

Apa harapan PPNI Kota Banda Aceh ?

“Besar harapan kita semua agar tidak ada lagi teman-teman profesi yang berguguran akibat tertular virus dalam menjalankan tugasnya, aamiin..

Dalam rasa empati terhadap sejawat-sejawat yang sedang diisolasi karena kontak dengan penderita covid di ruang isolasi penanganan covid, DPD PPNI Kota Banda Aceh pada tanggal 3 April yang lalu menyerahkan bantuan solidaritas berupa paket sembako.

Apa himbauan abang sebagai Ketua PPNI Kota kepadaperawat-perawat ?

“Di samping itu marilah kita  berperang bersama-sama melawan virus ini. baik untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan tempat tinggal, rekan kerja, lingkungan kerja dengan tidak bosan-bosannya menerapkan serta mendengungkan prinsip PHBS (Perilaku Hidup Bersih & Sehat) dgn WFH (Work From Home), berdiam diri dirumah, jaga jarak, biasakan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun), hindari keramaian, pakai masker setiap ke luar rumah & memakai APD dlm bekerja. Sekali lagi, saya selaku ketua PPNI Kota Banda Aceh merasa sangat prihatin & turut berbelasungkawa kepada almarhum/almarhumah rekan-rekan sejawat yang gugur dalam menjalankan tugas, teriring ucapan terima kasih & hormat saya kepada semua sejawat yang telah dengan  ikhlas hati berkerja melayani meski penuh dengan risiko, Insya Allah semua amal ibadah rekan-rekan sejawat diterima oleh Allah SWT & kelak ditempatkan di sisi Allah SWT dalam JannahNya, aamiin YRA..

Selain bapak ketua, mari kita simak juga komentar-komentar dari pengurus lain dengan berbagai latar belakang. Ada bang Juli, (Ns. Juli Kristanto, Bidang pelayanan) yang berada di garis depan pelayanan Puskesmas terhadap pasien Covid-19.

Sebagai perawat di pelayanan, apa hambatan yang ditemukan di lapangan bang?

“Menurut saya yang harus dibenahi segera adalah Stigma negatif masyarakat terhadap petugas medis yang menjemput semua pasien dengan ODP dan PDP begitu besar sehingga menjadi hambatan bagi petugas untuk mencegah penularan. Yang kedua, pasien dengan bergejala batuk, flu, demam, gangguan pola nafas serta tenaga paramedis yang merawat pasien Covid-19 sulit ditebak apakah ODP atau PDP karena sebagian masyarakat awam menutupi atau merahasiakan riwayat pasien karena alasan kekeluargaan.

Namun sebagai salah satu perawat di Puskesmas kita harus  ikhlas dengan terus melakukan promosi kesehatan cara penularan , pencegahan dan  penanganan pasien covid 19.

Bang Azhari (Azhari, AMK,SKM,MM, bidang kesejahteraan) salah seorang perawat jiwa senior dan berpengalaman memberi pandangan lainnya.

Abang kan perawat di Rumah sakit jiwa, bagaimana pendapat abang menghadapi Wabah covid-19 ?

“Sebagai orang Aceh kita harus selalu berdoa, itu yang diajarkan ulama, tengku-tengku kita dari dulu. Pemahaman islam begini, Virus itu kan makhluk ciptaan Allah juga, maka sepatutlah kita berlindung kepada yang menciptakannya, yaitu Allah, SWT. Semoga kita selalu dilindungi Allah, SWT, iblis aja berdoa, Allah kabulkan doanya,Maka dari itu jangan lah perna ragu akan Allah,SWT. Selanjutnya jangan lupa kita beriktiar dengan cara ikuti protokol dari WHO atau Kemenkes, “bek krueh utak (jangan Keras Kepala, red) terhadap himbauan seperti menghindari social distancing dan psical distancing”.

Dalam hal informasi dan pemberitaan bang Isneini (Ns. Isneini, M.Kep, bidang penelitian dan sistem informasi) melihat wabah ini dari sudut pemberitaan media.

Bang pemberitaan di media sangat membuat khawatir masyarakat tentang penularan virus Corona ini, bagaimana menyikapinya ?

“saya berharap masyarakat tidak panik, update terus informasi terkini tentang perkembangan C-19 ini di TV, Radio maupun media online. Paling mudah internet di HP masing-masing kita bisa lihat provinsi dengan zona merah dan tidak. Sehingga tidak  gegabah dalam bertindak melakukan hal-hal yang merugikan masyarakat, seperti menyebarkan hoax, melarang pemakaman, melarang berjualan khusus sembako sampai mengusir perawat dari Kos kosannya. Kalau di Aceh ini yang penting waspada terhadap pendatang, minta mereka dengan sukarela mengkarantina diri selama 14 hari”.

Ternyata wabah ini juga berdampak pada calon-calon perawat yang sedang belajar di bangku kuliah baik universitas, Politehnik kesehatan dan akademi perawat yang terpaksa kuliah dari rumah masing-masing. Dalam hal ini kita simak komentar Bu Dar (Ns. Darmawati, S.Kep, M.Kep, Sp.Mat, bidang pendidikan dan pelatihan) yang juga tenaga pengajar perawat di Provinsi Aceh.

Bu, masa pandemik covid-19 ini, bagaimana keadaan adek-adek perawat kita yang sedang belajar di bangku kuliah?

Mahasiswa keperawatan yang tengah menempuh pendidikan profesi juga mengalami dampak dari pandemik ini. Dengan adanya keadaan ini, baik rumah sakit maupun di komunitas tidak lagi mengizinkan mahasiswa keperawatan di sekitar pasien dan harus melakukan social dan phisical distancing. Hasil riset dari Pratt, 2020 juga menunjukkan mahasiswa yang harusnya mengejar jumlah jam jaga di rumah sakit harus tertunda untuk menuntaskannya sehingga akan berdampak pada kelangsungan pendidikan mereka. Keadaan ini menimbulkan sejumlah kekhawatiran dan perasaan campur aduk bagi mahasiswa keperawatan saat ini. Pengalaman sebagai pendidik pada pendidikan profesi cukup sulit untuk mencapai kompetensi sesuai dengan domain yang diharapkan pada level ners. Kondisi yang seharusnya mahasiswa dihadapkan pada suatu keadaan yang nyata harus bertukar pada sebuah simulasi dengan kelengkapan media yang seadanya. Sangat dikhawatirkan nanti lulusan yang saat ini dilakukan pembelajaran dengan daring akan kebingungan pada saat Uji Kompetensi berlangsung atau bahkan saat bekerja sebagai Ners muda di rumah sakit.”

Kita berharap pandemik ini akan segera berakhir dan masyarakat bisa hidup normal kembali. Perawat-perawat kota Banda Aceh khususnya mari kita semangat berjuang terus menolong korban-korban penularan Virus korona ini.

 

 

Share